AIPTU Dik Dik Gunardi Sosok
Polisi Yang Dekat Dengan Warga Cisewu
Aiptu Dik Dik Gunardi (Poto: Dik Dik Gunardi)
Bagi
warga Cisewu siapa yang tak kenal Dik Dik Gunardi? Polisi berpangkat AIPTU ini
begitu populer di daerah ini. Dari mulai seniman sampai buruh tani, dari pemuda
hingga orang tua pasti mengenalnya. Kenapa
tidak? Pasalnya, selama 13 tahun bertugas di tempat ini, ia telah mampu
membangun hubungan emosional yang baik, penuh persaudaraan dengan warga.
Selain itu, berbagai prestasi telah
ia torehkan di berbagai bidang, antara lain: kesenian, olahraga, kepemudaan,
dan sebagainya. Sejak mulai bertugas di
Cisewu tahun 2002 hingga sekarang. Setiap kali ada kegiatan, Ia selalu hadir.
Berbaur dengan masyarakat. Tak membuat
sekat jauh antara aparat penegak hukum dan warganya. Tidak memiliki pandangan:
bahwa Polisi itu harus selalu jaga wibawa. Melainkan ia berprinsip, bahwa abdi
negara itu harus manunggal bersama rakyat, berinteraksi yang baik. Membangun duduluran. Karena jiwa Sunda telah
melekat dalam diri Polisi yang mahir memainkan Karinding (alat musik
tradisional Sunda) ini.
“Saya merasa dekat dengan pak KANIT,
namun kami pun sangat menghormati beliau sebagai aparat penegak hukum. Di
sanggar seni, beliau seringkali latihan kesenian bersama kami. Kebetulan main
karinding dan celempungnya bagus, “kata Akbar, siswa SLTP (4/4).
Selain itu, Akbar dan teman-temannya
mengakui Dik-Dik Gunardi sebagai penyebar jenis alat musik tradisi itu. Dari
tempat kelahirannya, di Cicalengka, dan berkembang di Cisewu. Dik Dik selalu mengenalkan
Karinding ditambah jenis alat musik tradisi lainnya seperti: toleat dan Suling
di setiap ada pertunjukan kesenian, “pakaulan” sembari memakai pakaian adat
Sundanya yang khas.
“Saya ingat beliau, ketika kami
mengadakan gelar budaya Sunda di tahun 2011. Pak Kanit Dik Dik bersama dengan
pak Edi Supriadi (Eks. Sekmat Cisewu) telah mendukung kami, sepenuh hati.
Sehingga acara sukses. Serta beliau berjasa menegenalkan alat-alat seni Sunda
yang selama ini belum kami ketahui. Pak Kanit begitu dekat dengan para seniman
dan pemuda”ujar Hendra, tokoh pemuda Desa Mekar Sewu.
Namun semua itu, hanya akan menjadi
kenangan AIPTU Dik Dik Gunardi dan warga selamanya. Sebab, mulai hari senin, 8
Maret 2016 ia beralih tugas ke MAPOLSEK Cihurip. Sebuah
daerah dekat Gunung Gelap. “Tugas ini harus saya terima dengan lapang dada. Ini
sudah menjadi resiko abdi negara. Harus ditaati meski ke pelosok negeri. Meski betah disini, saya harus patuhi aturan. Di
daerah ini saya merasa banyak keluarga,
Cisewu tak saya anggap persinggahan. Tapi saya anggap daerah saya sendiri. Cisewu
adalah daerah dimana terukir banyak kenangan yang tak akan pernah hilang
sepanjang jaman,” paparnya sedikit puitis (4/3).
Tentu saja, kabar kepindahan Dik Dik
Gunardi ditanggapi haru semu warga Cisewu, “Emh,
waasnya pa Kanit bade ngalih,” ujar Yuliani dengan mata berkca-kaca.
“Semoga pak Kanit suatu saat bisa pindah lagi ke Cisewu, kami betul-betul
merasa kehilangan,” ujar Abah Icang (70), sesepuh seniman Gegel Jubleg. Dan
cetusan kata warga lainnya, mengiringi kepindahan KANITRESKRIM AIPTU Dik Dik
Gunardi. (Gun Gun Nugraha)
0 Comments